Desainer Tak Berguna!

karissa_featured_2

photo-1-57073b2e6023bd99057ec9a5

Oleh : Theresia Karissa C. *)

Dewan Olimpiade Asia meresmikan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 pada 20 September 2014 setelah Vietnam menyerahkan haknya karena kondisi perekonomian negara. Kebanggaan negeri meningkat, akhirnya kembali lagi menjadi tuan rumah setelah hengkang 56 tahun. Akhirnya, PR negeri menumpuk, mulai dari pembangunan wisma atlet, sampai pada pembuatan logo dan maskot. Akhirnya, di bawah Kemenpora (Kementrian Pemuda dan Olahraga), terciptalah logo Asian Games 2018 dan maskotnya yang dijuluki “Drawa”. Peresmiannya pun tidak sembarangan, Jusuf Kalla sendiri sudah memencet tombol tanda peresmian logo dan maskot ini pada 27 Desember 2015 silam.

Logo dan maskot Drawa merupakan personifikasi dari burung Cendrawasih yang menjadi burung khas Indonesia. Dengan kostum kebesaran dari olahraga pencak silat yang dikenakan pada tubuhnya, Kemenpora berharap untuk ke depannya Asian Games dapat mengikutsertakan olahraga pencak silat di dalamya. Baik dari Drawa sebagai tokoh utama, ataupun kostum olahraga lokal yang dikenakannya, Indonesia berharap dapat mengembangkan sayapnya, setidaknya di mata negara-negara Asia. Sayangnya, maksud ini mendapat sambutan negatif oleh netizen. Kecaman demi kecaman berdatangan lewat media sosial, khususnya dari netizen yang berkecimpung di dunia desain. Desain Drawa dinilai terlalu sederhana untuk acara berkelas seperti Asian Games. Selain itu, maskot dinilai tidak memiliki makna filosofis, ditambah dengan nilai visual yang tidak maksimal.

Sindiran keras dari netizen ini pun didengar oleh Kreavi, sebuah jejaring kreatif Indonesia. Kreavi pun membuat sebuah ajang perlombaan, memberikan kesempatan bagi para desainer Indonesia untuk berkarya mendesain ulang maskot Asian Games 2018. Leader Community dari Kreavi memaparkan bahwa pihaknya mengadakan kompetisi ini sebagai wujud kontribusi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki potensi kreator visual berkualitas global, yang mampu menciptakan maskot dan karakter yang mampu mewakili ajang dunia sekelas Asian Games. Adapun kompetisi ini bernama Re-Draw-A-Mascot, diikuti oleh lebih dari 300 desainer di Indonesia, dengan dinilai 17 juri profesional. Lucunya, lomba ini sama sekali tidak terafiliasi, baik dengan Kemenpora maupun Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia). Setelah perhelatan lomba dan pengumuman pemenang, barulah pemerintah buka suara. Kemenpora memutuskan bahwa logo dan maskot Asian Games 2018 akan diredesain, dengan sistem tender yang hanya dapat diikuti oleh kalangan desainer profesional.

Kejadian seperti ini bukanlah untuk pertama kalinya terjadi di Indonesia. Sebelumnya, Kreavi juga melakukan hal yang sama untuk mengkritisi pembuatan logo city branding, yakni untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan kota Surabaya. Tulisan ini bukan sebagai tanda keberpihakan saya pada Kreavi, tapi mari kita lihat sebagai bukti konkrit eksistensi desainer-desainer Indonesia yang memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk kemajuan negeri sendiri. Kreavi merupakan platform kreatif digital terbesar di dalam negeri yang menaungi lebih dari 30.000 pekerja kreatif Indonesia yang tersaring melalui standar desain. Secara matematis, saya yakin akan ada setidaknya 30.000 orang Indonesia yang cukup kompeten. Menyinggung potensi anak bangsa, bukti konkrit lainnya, ada berapa tangan anak negeri yang bekerja di industri kreatif Hollywood? Pertanyaan berikutnya, apakah 30.000 orang masih kurang untuk suatu logo? Dari segi ekonomi, branding bukanlah hal yang murah. Jika hal-hal seperti ini kerap terjadi, berapa uang yang anda habiskan untuk re-brand dan re-brand secara terus menerus. Padahal toh, sumber daya manusia juga lebih dari cukup.

Kiprah sejumlah desainer grafis Indonesia membuktikan bahwa kualitas desainer Indonesia sendiri sebenarnya sangat mumpuni di taraf internasional. Di antara desainer grafis asal Indonesia yang sudah berkarya di pasar industri kreatif tersebut, terdapat sejumlah nama yang mengemuka seperti Danton Sihombing, Yolanda Santosa, Lucia C Dambies, Henricus Kusbiantoro, Melissa Sunjaya, dan Christiawan Lie. Danton Sihombing yang menyandang gelar master bidang desain grafis dari Savannah College of Arts and Design (SCAD), Georgia, AS pernah berkarya di sejumlah perusahaan dunia seperti Allied Graphic Arts (AGA), New York City. Selain mereka, eksistensi desainer Indonesia bertebaran tidak sebatas di laman desain nasional saja. Berdasarkan data 99designs.com, situs pasar desain grafis terbesar di dunia yang bermarkas di Amerika Serikat (AS), saat ini tercatat lebih dari 225 ribu desainer dari 192 negara. Yang mengejutkan, sekitar 17 ribu di antaranya adalah desainer yang berasal dari Indonesia. Jumlah ini melampaui desainer Filipina yang selama ini mendominasi. Jason Aiken, Community Director 99designs, mengungkapkan bahwa dari jumlah tersebut, 4.000 orang di antaranya telah memenangi kontes desain di situs 99designs.

Jadi, terbukti bahwa sebenarnya desainer Indonesia tidak hanya sekedar ada, namun kualitasnya telah terbukti di dunia. Kemudian, mengapa kasus-kasus seperti logo Asian Games ataupun city brands di beberapa kota masih mengalami kendala dalam eksekusinya? Tidak cukup dengan budaya seni ataupun makanan, potensi bangsa sekali lagi tereksploitasi. Salah siapa?

Rasanya tidak adil jika kesalahan ini dilimpahkan kepada desainer. Pasalnya, terlihat jelas bahwa keinginan desainer lokal untuk memajukan negeri ini masih besar. Terbukti ketika Kreavi ataupun lembaga desain lainnya mengadakan suatu perlombaan, kesempatan untuk berkarya bagi negerinya, lebih dari 300 desainer berlomba-lomba menghasilkan yang terbaik. Kecaman pedas memang terlontar, namun hal ini juga diiringi dengan karya yang patut diacungi jempol.

Berbicara tentang ekonomi, bayaran standar desainer memang bernilai jutaan rupiah. Di situs 99designs, sebuah logo dinilai dengan harga mulai dari 400 US dollar. Bagaimanapun juga, biaya ini ini tidak akan sebanding dengan harga yang harus dikeluarkan untuk rebranding. Saya rasa, untuk mengeluarkan sedikit dana untuk membayar desainer, atau mengadakan sayembara desain, pemerintah masih sanggup. Selain itu, nilai biaya ini tentu tidak akan sebanding dengan rasa bangga yang akan didapatkan oleh Indonesia sendiri. Lain ceritanya kalau memang pemerintah lebih menyukai “efisiensi biaya”, ditukar dengan ceomohan yang bukan saja datang dari luar, tapi dari dalam negeri sendiri.

Sayangnya, hal ini tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Potensi ini masih tidak dapat dilihat, apalagi dimanfaatkan. Mungkin benar, desainer di Indonesia tidak ada gunanya. Desainer, khususnya di Indonesia, mengeluhkan betapa karyanya tidak mendapatkan penghargaan yang cukup. Bukti riilnya, percetakan berlomba-lomba menawarkan “desain gratis” bagi kliennya. Yah, jika pemerintahnya saja tidak bisa menghargai karya anak bangsanya, bagaimana masyarakat lain memandang? Pantas jika akhirnya mereka pun lebih memilih di luar negeri, di tempat di mana karya mereka lebih dihargai.

Bagi saya, akar masalah yang terjadi berasal dari kurangnya ketidaktahuan. Ketidaktahuan membawa kepada ketidakpedulian.

Pergerakan kemajuan desain ini haruslah didukung dari berbagai lapisan masyarakat, baik dari segi pengguna maupun produser desain, yakni desainer sendiri. Masalah-masalah yang telah terjadi seharusnya tidak terjadi lagi jika pemerintah mengerti akan penting dan bernilainya suatu karya desain dan bagaimana lebih dari 30.000 pasang tangan anak bangsa siap berkarya untuk itu. Mungkin ini yang dinamakan ing ngarso sung tulodo. Jika pemerintah sudah dapat menyadari ini, seluruh lapisan masyarakat pun akan lebih menghargai desainer dan peran desain dalam kehidupan keseharian. Timbal baliknya, sampah visual akan lebih berkurang, tidak akan ada pengeluaran sia-sia untuk perwujudan suatu citra, baik city brand, atau event apapun, citra desain Indonesia pun akan naik di mata dunia.

Desainer sudah siap menunggu untuk Indonesia mencapai titik ini. Sampai kapan mereka dibiarkan menunggu?

*) Penulis adalah mahasiswa prodi DKV Universitas Ma Chung, Semester IV.

**) Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *